Mon. Aug 3rd, 2020

Pemain Mulai Gerakan Amal, Klub Premier League Cemas Tidak Bisa Potong Gaji

Pemain Mulai Gerakan Amal, Klub Premier League Cemas Tidak Bisa Potong Gaji

Penyerang Manchester United, Marcus Rashford

Klub-Klub Premier League dikabarkan khawatir dengan gerakan amal bintang-bintang papan atas yang bisa menyulitkan negosiasi pemotongan atau penangguhan gaji. Di tengah pandemi virus corona ini, setiap klub menghadapi ancaman masalah finansial yang cukup besar.

Sepekan terakhir, gerakan #PlayersTogether mulai dikenal di jagat media sosial. Pemain-pemain seperti Harry Kane, Marcus Rashford, Kevin de Bruyne, dan puluhan pemain lainnya berencana mengumpulkan sampai 20 juta poundsterling untuk disumbangkan pada tenaga medis UK (NHS).

Gerakan itu tentu menuai respons positif. Para pemain dipuji karena mau bertanggung jawab terhadap masyarakat luas, mereka memang punya kekuatan untuk melakukannya.

Namun, petinggi sejumlah klub disebut cemas dengan efek gerakan amal tersebut. Apa maksudnya?

Ancaman finansial yang dihadapi klub-klub Premier League benar-benar serius. Tanpa sepak bola berarti arus pendapatan mereka macet. Tidak ada uang hak siar, tidak ada penjualan tiket.

Sebab itu, sejumlah klub dikabarkan mulai menegosiasikan pemotongan gaji dengan para pemain. Mereka belajar pada keputusan Barcelona dan Juventus yang sudah terlebih dahulu mencapai kesepakatan dengan skuad mereka.

Negosiasi ini tidak mudah, harus mencari jalan keluar yang terbaik untuk semua pihak. Sebab itu, gerakan amal ini bisa jadi menyulitkan bagi klub.

Mereka bakal lebih sulit merayu para pemain untuk menerima pemotongan gaji. Sebab, daripada memotong gaji untuk klub, para pemain diyakini lebih suka menerima gaji penuh dan mengalirkannya sendiri untuk amal.

Sejauh ini hanya ada dua klub yang sudah menyepakati pemotongan gaji atau penangguhan gaji. Southampton jadi klub pertama, West Ham mengikuti. Kabarnya, Manchester City dan Brighton bakal segera menyusul pekan depan.

Baik penangguhan atau pemotongan gaji cukup berisiko bagi para pemain. Belum ada yang tahu pasti kapan sepak bola bisa dimainkan kembali. Jika penundaan terus diperpanjang, bisa jadi mereka akan kesulitan karena jumlah gaji yang lebih kecil

Karena itulah ada sejumlah pemain yang ragu-ragu dan lebih senang menerima gaji penuh untuk membantu dengan cara mereka sendiri. Tentu sikap para pemain ini menyulitkan klub yang masih harus membayar ratusan staf lainnya.

Premier League sebagai otoritas liga tidak punya hak untuk memaksa. Hanya memberikan instruksi bagi para pemain untuk lebih memahami situasi yang sebenarnya.